Kamis, 06 Januari 2011

Buat Yang Lagi Jatuh Cinta


           Kalimatnya selalu mengalir begitu indah, setiap katanya adalah bagai rajutan benang mahal yang tersusun rapih. Permintaanya tak pernah jadi tidak mungkin. Hmm, begitu memang kalau sedang jatuh cinta. Tapi, pernah atau akan terasa berkebalikan jika cinta itu jenuh dan tidak kekal. Contohnya: sepasang pasangan muda belum menikah -saya suka menyebutnya pasangan ilegal karna belum punya SIM- semasa itu sungguh luar biasa perasaanya menggelora. Suatu hari sang lelaki mengajak kekasinya berkeliling dengan sepeda tua yang sering dikenal sepeda unta. Yang sebenarnya juga hasil pinjaman dari teman sekampusnya. Di ajaklah ia mengelilingi kota padang yang waktu itu terasa milik berdua sampai pak polisi yang memanggilnya dari belakang diacuhkan akibat mereka melanggar lampu merah. Hari yang tadinya sejuk sudah menjadi semakin panas, namun tak dihirau. Kota kecil itu sudah mereka jelajahi. “Yank udah puas belum muter-muter nya” tanya sang pangeran onta. “Belum bang, tapi bosan puter-puter di sini terus” jawabnya manja. “Ok kalau begitu kita pergi kesolok yuk! Pake sepeda onta”. “Emang abang kuat?”. “Asalkan ada ayang di belakang itu sudah menjadi energi buat abang, lagian apa sih yang enggak buat kamu?” Jawabnya mantap.
Setibanya di pendakian Indarung, laju sepeda tua itu makin lambat. Suasana panas waktu itu makin menyengat. Matahari berada di puncak kepala. Suara gemuruh mobil besar, disaingi dengan kepulan debu dan asap yang kadang kala menyelimuti. Namun sang pangeran tetap bersemangat. “Yang aku perlu turun ga?” tanya wanita di belakanganya yang sebenarnya hanya basa-basi saja. “Oh, oh, ga usah yang. Biar aa yang mengatasinya”.
Waktu pun berlanjut hingga mereka sampai pada saat yang menjadi penantian selama masa pacaran, yakni pernikahan. Berbulan berjalan dengan baik, sampai sang istri mengandung anak yang pertama. “Bang, aku ngidam nih”, “Ngidam apa?” jawab suami yang sedang asik memandikan burung peliharaanya tampa menoleh sedikit pun. “Aku mau jalan-jalan lagi seperti waktu kita pacaran dulu”. “Ah, kamu ini. Sepeda nya kan sudah ga ada, lagian abang lagi sibuk nih.” jawabnya dingin. Istripun semakin mendesak sampai suami memenuhi keinginannya.
Kali ini biarpun pakai sepeda motor, keasikanya pun tak jauh sama bagi sang istri. Suami pun menikmati. Sampai pada saat jenuhnya, sang istri tetap ingin diajak mengulang masa indah itu. “Bang yuk, kita ke solok” isrtinya dengan semangat. “Aduh, gak usah kesolok ya, udah capek nih”. “Ini permintaan anak mu loh bang”. Dengan terpaksa suami menurutinya, kalimat ini yang tadi pagi diucapkan si istri mendesak suami.
Masa indah lalu memang terulang lagi, meski dengan versi yang agak lain. Ditengah jalan, di pendakian sepeda motor tua itu terasa tidak sanggup membawa beban dua orang lebih di atasnya. Kalimat tanya itu pun diulang lagi. “Yang aku perlu turun ga?” tanya istri manja. “Heh pakek nanya lagi, cepet turun sana, dorong!!!” bentak suami sebagai ekspresi kekesalannya yang sudah terpendam dari tadi pagi.
Baik kita tinggalkan dulu pasangan tadi. Dalam konteksnya cinta terbagi dua. Cinta syar'i dan cinta non-syar'i. Cinta syar'i berlandaskan iman yang kuat dan atas dasar kecintaan kepada Allah S.W.T. Cinta non syar'i itu hanya berdasarkan nafsu semata yang dibungkus oleh setan menjadi sangat indah. Sebuah kado merah jambu berpita yang dihiasi kilauan perniknya berisi sebungkus kehinaan. Perasaan cinta itu berasal dari hati, dan hati itu Allah yang mengendalikanya. Jadi cinta yang sejati adalah milik Allah S.W.T.
Lalu bagaimana cinta kita pada orang tua? Ketika kita mencintai Allah, kita wajib juga mencintai apa yang dicintainya. Mencintai Rasulullah, orang tua dan orang beriman serta mencintai apa yang dicintaiNya. Membenci apa yang dibenciNya dan membenci siapa saja yang dibenciNya.
Kalau kita tidak yakin dengan cinta kita, ada ciri-cirinya:
  1. Banyak mengingat dan menyebut yang dicintai
  2. Kagum terhadap yang dicintai
  3. Ridha terhadap yang dicintai
  4. Mau mengorbankan apapun terhadap yang dicintai
  5. Patuh terhadap permintaan yang dicintai
  6. Meliliki harapan yang besar terhadap yang dicintainya
  7. Takut ditinggalkan yang dicintainya.

Semoga bermanfaat. Wallahualambissawaf.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar