Minggu, 09 Januari 2011

Tak perlu ada dirimu
Andainya menambah luka
Tak perlu kau tabur dendammu
Mencipta sengketa lara

Kau noda cinta yang setia
Cinta yang membara
Apa kau terlupa
Kau bakar resah yang ku bendung
Sabar yang ku rindu
Jenuh ku bertahan

Jangan berhenti jangan terhenti
Mencari teduh cinta sejati
Aku peduli aku simpati ranjauanmu

Aku menanti ayuh solehah
Yang indah budi sederhana
Aku doa engkau pun jua bahagia

Yang lalu biarkan berlalu
Tak mungkin tercantum lagi
Redhala ketentuan ini
Tak usah diamuk resah

Lihatlah sang mentari
Menyuluh luas bumi
Cahayanya menerangi
Begitu hidup ini
Sinarnya kan menanti…

menanti sholehah

Nur Kasih

Bagaikan permata di celahan kaca
Kedipnya sukar untuk dibezakan
Kepada-Mu Tuhan ku pasrah harapan
Moga tak tersalah pilihan

Nur Kasih Mu mendamai di kalbu
Jernih setulus tadahan doaku
Rahmati daku dan permintaanku
Untuk bertemu di dalam restu

Kurniakan daku serikandi
Penyejuk di mata penawar di hati
Di dunia dialah penyeri
Di syurga menanti… dia bidadari

Kekasih sejati teman yang berbudi
Kasihnya bukan ketepaksaan
Bukan jua kerana keduniaan
Mekar hidup disiram Nur Kasih

Ya Allah…
Kurniakanlah kami
Isteri dan zuriat yang soleh
Sebagai penyejuk mata

Kurniakan daku serikandi
Penyejuk di mata penawar di hati
Di dunia dialah penyeri
Di syuga menanti… dia bidadari

Kekasih sejati teman yang berbudi
Kasihnya bukan keterpaksaan
Bukan jua kerana dunia
Mekar hidup ini disirami Nur Kasih

Di tangan-Mu Tuhan ku sandar impian
Penentu jodoh pertemuan
Seandai dirinya tercipta untukku
Relaku menjadi miliknya



In-Team - Nur Kasih

SAHABAT


Ingin aku singkap kembali
Kenangan lama agar bersemi
Inginku ulangi kisah manis
Agar terus bersemadi
Ingatlah aku sebagai rakanmu
Kenanglah aku dalam doamu
Begitu indahnya kisah dahulu
Engkau sebagai temanku

Apabila engkau terjaga
Satukanlah harapanku denganmu
Kerana ianya bakal berpadu
Mimpi si penunggu yang setia
Layarkanlah impian doamu
Sesungguhnya aku masih mengingatimu
Sebagai kawan rakan dan teman
Semoga kita diberkati Allah
Kudoakan kepadamu agar bahagia
Di dunia dan akhirat

by :Amar - sahabat

Kamis, 06 Januari 2011

Buat Yang Lagi Jatuh Cinta


           Kalimatnya selalu mengalir begitu indah, setiap katanya adalah bagai rajutan benang mahal yang tersusun rapih. Permintaanya tak pernah jadi tidak mungkin. Hmm, begitu memang kalau sedang jatuh cinta. Tapi, pernah atau akan terasa berkebalikan jika cinta itu jenuh dan tidak kekal. Contohnya: sepasang pasangan muda belum menikah -saya suka menyebutnya pasangan ilegal karna belum punya SIM- semasa itu sungguh luar biasa perasaanya menggelora. Suatu hari sang lelaki mengajak kekasinya berkeliling dengan sepeda tua yang sering dikenal sepeda unta. Yang sebenarnya juga hasil pinjaman dari teman sekampusnya. Di ajaklah ia mengelilingi kota padang yang waktu itu terasa milik berdua sampai pak polisi yang memanggilnya dari belakang diacuhkan akibat mereka melanggar lampu merah. Hari yang tadinya sejuk sudah menjadi semakin panas, namun tak dihirau. Kota kecil itu sudah mereka jelajahi. “Yank udah puas belum muter-muter nya” tanya sang pangeran onta. “Belum bang, tapi bosan puter-puter di sini terus” jawabnya manja. “Ok kalau begitu kita pergi kesolok yuk! Pake sepeda onta”. “Emang abang kuat?”. “Asalkan ada ayang di belakang itu sudah menjadi energi buat abang, lagian apa sih yang enggak buat kamu?” Jawabnya mantap.
Setibanya di pendakian Indarung, laju sepeda tua itu makin lambat. Suasana panas waktu itu makin menyengat. Matahari berada di puncak kepala. Suara gemuruh mobil besar, disaingi dengan kepulan debu dan asap yang kadang kala menyelimuti. Namun sang pangeran tetap bersemangat. “Yang aku perlu turun ga?” tanya wanita di belakanganya yang sebenarnya hanya basa-basi saja. “Oh, oh, ga usah yang. Biar aa yang mengatasinya”.
Waktu pun berlanjut hingga mereka sampai pada saat yang menjadi penantian selama masa pacaran, yakni pernikahan. Berbulan berjalan dengan baik, sampai sang istri mengandung anak yang pertama. “Bang, aku ngidam nih”, “Ngidam apa?” jawab suami yang sedang asik memandikan burung peliharaanya tampa menoleh sedikit pun. “Aku mau jalan-jalan lagi seperti waktu kita pacaran dulu”. “Ah, kamu ini. Sepeda nya kan sudah ga ada, lagian abang lagi sibuk nih.” jawabnya dingin. Istripun semakin mendesak sampai suami memenuhi keinginannya.
Kali ini biarpun pakai sepeda motor, keasikanya pun tak jauh sama bagi sang istri. Suami pun menikmati. Sampai pada saat jenuhnya, sang istri tetap ingin diajak mengulang masa indah itu. “Bang yuk, kita ke solok” isrtinya dengan semangat. “Aduh, gak usah kesolok ya, udah capek nih”. “Ini permintaan anak mu loh bang”. Dengan terpaksa suami menurutinya, kalimat ini yang tadi pagi diucapkan si istri mendesak suami.
Masa indah lalu memang terulang lagi, meski dengan versi yang agak lain. Ditengah jalan, di pendakian sepeda motor tua itu terasa tidak sanggup membawa beban dua orang lebih di atasnya. Kalimat tanya itu pun diulang lagi. “Yang aku perlu turun ga?” tanya istri manja. “Heh pakek nanya lagi, cepet turun sana, dorong!!!” bentak suami sebagai ekspresi kekesalannya yang sudah terpendam dari tadi pagi.
Baik kita tinggalkan dulu pasangan tadi. Dalam konteksnya cinta terbagi dua. Cinta syar'i dan cinta non-syar'i. Cinta syar'i berlandaskan iman yang kuat dan atas dasar kecintaan kepada Allah S.W.T. Cinta non syar'i itu hanya berdasarkan nafsu semata yang dibungkus oleh setan menjadi sangat indah. Sebuah kado merah jambu berpita yang dihiasi kilauan perniknya berisi sebungkus kehinaan. Perasaan cinta itu berasal dari hati, dan hati itu Allah yang mengendalikanya. Jadi cinta yang sejati adalah milik Allah S.W.T.
Lalu bagaimana cinta kita pada orang tua? Ketika kita mencintai Allah, kita wajib juga mencintai apa yang dicintainya. Mencintai Rasulullah, orang tua dan orang beriman serta mencintai apa yang dicintaiNya. Membenci apa yang dibenciNya dan membenci siapa saja yang dibenciNya.
Kalau kita tidak yakin dengan cinta kita, ada ciri-cirinya:
  1. Banyak mengingat dan menyebut yang dicintai
  2. Kagum terhadap yang dicintai
  3. Ridha terhadap yang dicintai
  4. Mau mengorbankan apapun terhadap yang dicintai
  5. Patuh terhadap permintaan yang dicintai
  6. Meliliki harapan yang besar terhadap yang dicintainya
  7. Takut ditinggalkan yang dicintainya.

Semoga bermanfaat. Wallahualambissawaf.

KASIH SAYANG

Semalam sepulang dari Kerja, saya masih menjumpai istri saya sedang mengajar mengaji anak-anak Amalia. Di tengah kandungannya yang menginjak 7 bulan lebih perutnya yang terlihat besar masih penuh semangat. Di tengah kondisinya seperti itu semangatnya tidak pernah surut. Anak-anak juga ikut bersemangat. Itulah sebabnya saya bisa memahami kenapa anak-anak Amalia begitu sayang kepada istri saya yang lebih akrab disapa dengan 'Kak Rika.' Airmata saya tak terasa menetes, sebuah airmata kasih sayang bentuk penghormatan kepada sosok perempuan yang telah menjadi ibu dari putri saya dan juga kakak bagi anak-anak Amalia.
Dalam keluarga, sosok perempuan dan ibu memiliki kedudukan yang mulia. Ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui, bersama suami mendidik anak dan mengasuh dalam menjalankan roda keluarga. Andil dalam keluarga dan masyarakat sangatlah besar. Kekaguman dan rasa hormat saya untuk semua perempuan dan ibu yang telah bekerja keras membesarkan anak-anaknya bersama suami tercintanya.
Saya percaya, kita sebagai orang tua sadar bahwa anak adalah sebuah amanah. menjalankan amanah memanglah tidak mudah sebab harus dijalankan dengan kesabaran dan ketabahan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berakhlak mulia. Baginda Nabi Muhamad SAW memandu kita untuk mendidik anak-anak, 'Tidak termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak mengetahui hak orang besar diantara kita (HR. Imam Ahmad & al-Hakim). Demikian juga diriwayatkan oleh Anas baginda Nabi setiap kali berjalan bertemu dengan anak kecil beliau senantiasa tersenyum dan memberikan salam kepada mereka (muttafaq alaih). Konsep yang diajarkan oleh Nabi sangatlah sederhana untuk mendidik anak yaitu senyuman dan ucapan yang baik. Dengan senyuman anak-anak kita akan tumbuh dengan kepercayaan diri dan memberi kelapangan hati sedangkan ucapan yang baik akan membimbing anak-anak kita menjadi insan mulia.
Biasanya sepulang kerja, belum sampai motor masuk rumah sudah disambut oleh Hana berdiri didepan pagar pintu rumah. Bila habis mandi atau kramas, Hana selalu meminta saya untuk mencium rambutnya yang harum. "Ayah cium nih..rambut Hana baru kramas.." kata Hana dengan mata berbinar. Badan yang awalnya capek dan lelah menjadi segar bertemu dan memeluk anak kita tercinta.
Islam mengajarkan salah satu wujud nyata kasih sayang adalah 'komunikasi yang menyejukkan hati.' Komunikasi yang menyejukkan hati bentuk komunikasi yang tercipta dalam keluarga harmonis, keluarga yang melimpahnya kasih sayang disetiap anggota keluarga. Anak-anak yang bahagia karena suasana didalam rumahnya terdapat melimpahnya kasih sayang dari kedua orang tuanya. Orang tua pola komunikasinya sehat dan berimbang sesuai dengan kebutuhan mereka. Menghargai, pujian, kata-kata manis, keramahan, kelembutan dan penghormatan terhadap diri mereka merupakan makanan bergizi bagi jiwa anak-anak kita.
Maka siraman kasih sayang seorang ibu maupun ayah merupakan salah satu faktor terbesar bagi kebahagiaan anak dalam hidupnya. Ucapan yang penuh kasih sayang dari ibu dan ayahnya selalu terdengar menyejukkan sesungguhnya mengajarkan cara berbicara yang baik dan bergaul yang baik bagi sang anak. Dari sinilah awal pembentukan karakter dan pribadi-pribadi yang mulia, berbakti kepada kedua orang tua dan berguna bagi masyarakat. begitulah Baginda Nabi Muhamad SAW mengajarkan kita bahwa mendidik anak-anak dengan kasih sayang itu indah.Bagi yang belum mempunyai anak atau bahkan yang belum menikah,adik dan anak-anak kecil di sekitar kita adalah anak sebelum anak kita yang sebenarnya.